Monday, October 20, 2014

Mulailah dengan Istighfar Pak Jokowi, jangan dengan pesta.

wihartoyo wihartoyo     Monday, October 20, 2014     No comments

(Oleh: Arif Wibowo)

Do'a dari Sang Bunda

Ada satu bab menarik dari Buya Hamka dalam bukunya Lembaga Budi, saat membahas Imam Yang Adil, Budi Mulia Para Raja. Setelah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah, ia meminta nasehat kepada Ulama yang amat masyhur pada zamannya yaitu Hasan Bashri. Umar bin Abdul Aziz meminta fatwa kepada alim besar ini bagaimana sifat-sifat dan kelakuan seorang yang dijadikan pemimpin rakyat, menjadi Imam ikutan orang banyak. Permintaan ini dikabulkan oleh Hasan Bashri, lalu ditulisnya sepucuk surat, yang demikian bunyinya :

Assalamu ‘alaikum warahamatullahi wa barakatuh

“Ya Amirul Mu’minin, bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan Imam yang adil itu, sebagai penungkat mana yang condong, tempat berlindung orang yang teraniaya, memperbaiki mana yang binasa, menjadi kekuatan bagi yang lemah, membela orang yang tertindas, tempat mengadu orang yang kemalangan.

Imam yang adil itu ya Amirul Mu’minin, adalah laksana seorang penggembala yang menggembalakan onta yang dikasihinya, dihalau ke padang yang subur rumputnya, dihindarkannya jauh dari tebing-tebing yang curam, dijaganya agar jangan dimakan binatang buas, dipeiharanya supaya jangan mati kelaparan atau kedinginan.

Imam yang adil itu Ya Amirul Mu’minin, adalah laksana ayah yang cinta pada anak-anaknya, di waktu kecil diasuhnya, setelah besar dididiknya. Seketika si ayah itu hidup, maka perusahaan ialah buat anaknya, dan setelah si ayah mati, maka sepeninggal hartanya ialah buat mereka.
Imam yang adil ya Amirul Mu’minin, adalah laksana seorang ibu yang kasih akan anaknya. Dikandungnya anak itu dengan serba kesakitan dan dilahirkannya e dunia dengan serba kesakitan pula. Di waktu kecilnya diasuhnya dan dibelainya, sepicing haram matanya tertidur karena menjaga anak itu. Kalau anaknya demam, di yang dahulu sakit, kalau anakya senang, dia yang dahulu gembira. Sesekali disusukannya, sekali digendongnya dalam pangkuannya. Jika anaknya sehat dia bersuka cita, jika anaknya mengaduh kesakitan, hatinya risau.

Imam yang adil, ya Amirul Mu’minin, adalah seorang pelindung anak yatim yang menerima wasiat dari ayah anak itu seketika dia akan wafat. Imam yang adil tempat penyimpanan bagi si miskin, yang kecil diasuhnya dan yang besar dibelanya.

Imam yang adil, ya Amirul Mu’minin, di dalam kerajaannya, laksana hati di dalam tubuh insan. Baik tubuh karena baiknya dan rusak semuanya karena rusaknya.

Imam yang adil, ya Amirul Mu’minin, adalah seorang yang tegak di bata, diantara Allah dan hamba-Nya. Didengarnya kalam Allah, lalu disampaikannya kepada rakyatnya, dilihatnya wajah Allah, lalu disampaikannya penglihatan itu kepada mereka, dan berpegang kepada Allah di dalam menuju kebahagiaan, lalu dibimbingnya pula tangan kaumnya supaya turut pula merasai kebahagiaan.

Oleh karena yang demikian itu, wahai Amirul Mu’minin, di dalam paduka memegang amanah Allah, janganlah tuan sebagai budak yang dipercayai oleh penghulunya untuk menjaga harta bendanya dan kaum kerabatnya lalu dimusnahkannya harta itu dan disia-siakannya kaum kerabat penghulunya. Sehingga dia sendiri jatuh miskin, dan da sendiri yang terlantar bersama kaum kerabatnya lantaran kesalahan itu.

Ketahuilan ya Amirul Mu’minin, bahwasanya Allah Ta’ala telah menurunkan beberapa Undang-Undang, ialah buat mengancam manusia agar tidak melakukan perbuatan yang keji dan hina. Bagaimanalah buruknya kalau yang dipercayai menjalankan Undang-Undang itu sendiri yang melanggarnya ? Allah Ta’ala menurunkan hukum Qisash untuk menjaga kehidupan hamba Allah ? Bagaimanalah ganjilnya, kalau wali yang menjaga qisash itu sendiri yang menyia-nyiakan jiwa rakyatnya ?
Lain dari itu, hendaklah ingat, ya Amirul Mu’minin, akan maut dan yang sesudah maut. Ingatlah apabila mati itu paduka tempuh kelak, hanya sedikit orang yang akan menjadi pembantumu, tak ada orang yang akan menolong. Oleh sebab itu, maka sediakanlah bekal untuk maut dan yang untuk sesudah maut. Ketahuilah ya Amirul Mu’minin, bahwasanya paduka akan berpindah ke suatu tempat yang belum pernah paduka diami. Lama paduka akan disana, akan tinggal seala yang dicintai dan sunyi duduk seorang diri, tak berkawan dan tak berteman. Bersedialah dari sekarang, carilah bekal untuk hari yang hebat maha besar itu, hari yang lari manusia padanya dari saudaranya dan ibunya, dari ayahnya dan istrinya dan dari anaknya sekalipun.

Ingatlah ya Amirul Mu’minin, bagaimana hebatnya kelak, bila dibongkar isi kubur, dikeluarkannya segala isi dada. Segala rahasia akan terbuka, dan kita akan menuliskannya, tidak ada yang kecil tidak ada yang besar semuanya akan tertulis. Maka sekarang, ya Amirul Mu’minin, di waktu paduka masih dapat bertenang, insafilah diri sebelum datang ajal, sebelum terhenti segala cita-cita. Janganlah paduka menjatuhkan hukuman kepada hamba Allah dengan kejahilan, dan jangan menjadi wakil paduka, orang yang takabur dan sombong, akan memerintah rakyatnya yang lemah dan tak berdaya. Orang-orang yang sombong dan takabur itu tidak memperhatikan belas kasihan dan tidak ada tanggung jawab. Padahal yang demikian yang akan memikul dosanya ialah paduka sendiri, dosa sendiri dan dosa orang yang dijadikan wakil itu.

Janganlah paduka terpedaya oleh orang-orang yang mendapatkan kesenangan dunia dan berlepas enak-enak daripada keduniaan, tetapi paduka kehilangan nikmat di akherat. Jangan dipandang dan dipercaya kekuatan paduka hari ini, tetapi ingatlan adakah kekuatan dan kodrat paduka nanti, padahal seketika itu paduka telah terkurung di dalam belenggu kematian, berdiri di hadapan Allah, di hadapan suatu majelis yang dihadiri malaikat-malaikat dan arwah Nabi-nabi dan Rasul, semua muka yang menekur ke bumi lantaran hebatnya di Hadirat Al Hayyul Qayyum, Yang Hidup dan Maha Kuasa.

Adapun diri hamba ini, ya Amirul Mu’minin, meskipun nasehat yang hamba berikan ini tidak sehebat nasehat orang-orang yang dahulu dari hamba, namun cinta hamba kepada paduka tidaklah kurang. Oleh sebab itu, terimalah surat dan nasehatku ini, pandanglah dia laksana semangkuk ramuan obat yang diberikan oleh seorang yang amat cinta kepada temannya yang sakit, walaupun pahit obat itu, disuruhnya juga sahabatnya yang sakit menelannya, sebab sahabat yang memberikan itu sangat harap supaya dia lekas sembuh dan afiat.

Wassalamu ‘alaikum ya Amirul Mu’minin, warahmatullahi wa barakatuh.

[Buya Hamka, Lembaga Budi, (Jakarta : Pustaka Panjimas) hal. 46-48]

, ,

0 komentar :

Berita PostgreSQL

Recommended