Thursday, April 21, 2011

PowerBuilder oh EAServer oh dotNet......

Unknown     Thursday, April 21, 2011     6 comments
Satu pertanyaan yang sering menggelitik untuk dijawab adalah, kenapa Sybase menghentikan fitur PowerBuilder Application Server di versi 7.0.3 dan fitur connectornya di PowerBuilder 9.x?
Sangat wajar agaknya bila pertanyaan ini muncul karena tidak bisa disangkal bahwa PowerBuilder Application Server adalah fitur yang sangat banyak membantu bagi banyak entitas untuk mendapatkan solusi distributed computing yang mudah dan murah pada skala tertentu.  Ooopsss..., skala tertentu, ini mungkin kiwordnya, sehingga sybase mematikan fitur ini dan tetap mempertahankan EAServer. Tapi, pikir-pikir tidak 'adil' juga bila dengan bermodal kiword skala tertentu ini, kemudian fitur ini dimatikan.  Karena tidak semua aplikasi n-tier adalah aplikasi enterprise seperti kepanjangan huruf E pada EAServer. Enterprise.  Banyak sekali kelas SOHO yang ternyata membutuhkan layanan selayaknya kelas Enterprise.  Gak habis pikir aku bila suatu SOHO harus berinvestasi sekelas Enterprise hanya untuk menjalankan IT sistemnya yang memang harus dijalankan dengan solusi n-tier. Mungkin Sybase lupa, bahwa akar rumput bisa membawa tanah lebih banyak dibanding akar pohon beringin sekalipun. Ato mungkin, Sybase takut bersaing dengan jBoss yang didukung java yang 'sudah open' dengan banyak frameworknya yang notebene free of charge? Bila ya memang begitu, maka Sybase bukan membunuh ketakutannya, tetapi ketakutannya itulah yang bakal 'membunuh'nya (dalam hal ini PowerBuilder).
Meskipun sampai saat ini masih banyak yang bertahan dengan PowerBuilder 7.03 untuk tetap mendapatkan kemudahan dari PowerBuilder Application Server, ternyata untuk bertahanpun tidak mudah.  Teknologi operating system, yang dalam hal ini adalah Microsoft Windows, semakin berkembang dan yang terakhir adalah Microsoft Windows 7 yang notabene didasarkan pada mesin 64 bit.  Meskipun MS Windows 7, bisa menjalankan aplikasi 32 bit, namun kenyataannya PowerBuilder 7.0.3 tidak 100% berjalan dengan baik di OS ini.  Hal ini tentunya akan sangat merepotkan dalam proses pengembangan aplikasi, dan tentunya 'peluang' terjadinya kegagalan pada saat dijalankan pun semakin terbuka lebar.  Artinya, para pengembang aplikasi harus bertahan pada MS Windows XP, yang berarti dalam hal pemasaran kemudian menjadi titik lemah dalam budaya populer saat ini, dimana tuntutan konsumen untuk menggunakan teknologi terakhir tidak boleh disepelekan.  Akhirnya, para pengembang dihadapkan pada kondisi untuk merayu konsumen agar tetap menggunakan MS Windows XP yang tentunya tidak mudah.  Dan apabila ini terus berlanjut, pastinya, akhirnya pengembang hanya punya dua pilihan ikuti perkembangan teknologi, atau punah....
Mengikuti perkembangan teknologi tentunya tidak mudah juga.  Apabila tetap bertahan dengan menggunakan teknologi PowerBuilder artinya mereka harus merubah platform middle tier-nya dengan mengadaptasikan existing middle tier-nya dari PowerBuilder Application Server ke dalam Sybase EAServer.  Pilihan ini, tentunya, bukan pilihan yang murah, karena mereka harus berinvestasi atau mengajak existing customernya untuk sama-sama berinvestasi.  Dan, bergantung kepada kemampuan dari pengembang dalam bernegosiasi/berinvestasi dan kesedian customer, akhirnya pilihan ini banyak yang menjadi pilihan yang ditanggalkan alias tidak untuk dipilih ketimbang pilihan untuk dilanjutkan.
Apabila pilihan untuk beralih ke Sybase EAServer menjadi pilihan untuk ditanggalkan, kebanyakan dari mereka akan beralih untuk mengalihkan seluruh aplikasinya ke Java dengan banyak pilihan middle tier yang free of charge.  Pilihan ini tentunya tidak mudah pula, karena tentunya akan merubah seluruh aplikasinya dari PowerBuilder ke Java yang berarti ada tuntutan penguasaan pengembangan dengan Java dan berarti pula ada proses rekrutmen atau proses update terhadap resource pengembang/programmer dan ini berarti pula waktu dan biaya.  Dan di sisi customer pun harus pula dibiasakan dengan antarmuka yang baru dengan menggunakan Java yang berarti merubah kebiasaan mereka.  Namun, dari semua ini, pilihan untuk beralih ke Java menjadi pilihan untuk dilanjutkan oleh banyak pengembang.
Sebagaimana disebutkan tadi, bahwa Sybase tengah membunuh PowerBuilder dengan ketakutannya, dengan banyaknya pihak yang beralih ke Java, statemen ini semakin menampakkan wujudnya. Namun, Sybase mungkin menyadari hal ini.  Oleh karena itulah maka, mungkin, Sybase semakin merapat ke dotNet dengan berharap mendapatkan 'penggemar baru' dari dunia pengembang lain di luar dunianya sendiri (PowerBuilder). Hal ini direpresentasikan dalam produk pengembangannya yang teranyar, PowerBuilder.Net. Dan, PowerBuilder yang bukan .Net mereka sebut PowerBuilder Classic.  Ah... akankah kemudian PowerBuilder Classic pun akan mengalami nasih yang serupa dengan fitur PowerBuilder Application Server? (Hanya Tuhan dan pihak Sybase yang tahu)

6 komentar :

Friday, April 8, 2011

Bing dan Google, coba-coba...

Unknown     Friday, April 08, 2011     No comments
Selamat pagi semua.  Setelah memposting blog hari kemarin yang secara gak langsung ada bing dan google, hari ini ane agak tergelitik untuk membandingkan hasil pencarian antara bing dan google.  Karena ane lagi penasaran sama PowerBuilder12  maka ane ketik aja keyword PowerBuilder12 di kedua mesin pencari tadi. Dan, ow..., hasilnya sungguh menakjubkan. Untuk bing, pada halaman 1 hasil pencariannya sudah menampilkan link-link dari  tempat mendapatkan PowerBuilder 12 secara ilegal bin crack bin keygen. Wow! Sementara untuk Google, halaman pertama masih menampilkan link-link yang membahas tentang PowerBuilder 12.

Nah ini Hasil kepceran pencarian PowerBuilder12 dengan bing

Hasil kepceran pencarian PowerBuilder12 dengan Google:

Mmm...., dengan menggunakan bing aku jadi teringat http://www.astalavista.com, tempat buat nyari-nyari software cracked. (he he he, pernah juga ane nylonong ke sonoh. waktu misih make window).  Jadi sekarang, silaken tinggal milih, make bing atawa tetep setia dengan mBah Gugel.

0 komentar :

Thursday, April 7, 2011

Google Android Gak Opensource Lagi?

Unknown     Thursday, April 07, 2011     No comments
Apa bener? Aduh..., masa Google mau ngekepin Android? Wah-wah-wah..., kalo ngebaca dari OkeZone sih emangnya begitu. Dan wajar, kalo Google mulai jengah dengan kelakuan para pengadopsi Android. Bahkan ada yang selingkuh, seperti handsetnya Samsung untuk Verizon ang menyelingkuhkan Android dengan Bing punyanya Microsoft. O, o...! Gimana gak mencak-mencak, la wong udah dikasih open tuh Android, e la kok search engine-nya dikasih default ke Bing. O la la...! Bukan ngebelain mBah Google karena akupun gak punya device yang make Android, tapi secara etika memang keterlaluan tuh Verizon. Sebagai calon pengguna potensial, menurut saya, sudah sewajarnya Google semakin memperketat kontrol terhadap pengembangan Android oleh partner.  Karena 'keterbukaan' Android emang dah keterlaluan.  Kalo gak salah, gak ada satupun distro linux menggunakan nama yang sama selain Android.  Ubuntu, opensource linux ini dikembangkan hanya oleh satu entity, Canonical. Fedora / Redhat diurus cuma oleh Redhat. Bahkan yang berbasis komunitas sekalipun semacem CENTOS (Comunity ENTerprise OS), dikelola oleh entity yang terdiri dari developer yang teroganisir.  So jadi, gak salah juga kalo Google kemudian memperketat kontrol terhadap pengembangan Android oleh partner. Benar, hanya sekedar pengontrolan saja untuk mengurangi terjadinya fragmentasi terhadap OS yang bernama Android. Bukan menjadikannya tidak open lagi. Tujuannya jelas, ingin membatasi terjadinya fragmentasi terhadap kode Android itu sendiri. Dan sebagai calon pengguna potensial, saya sangat senang bahwa kualitas Android akan lebih terjaga oleh pengontrolan pihak Google. Meskipun banyak partner yang kemudian merasa keberatan tentunya......

0 komentar :

Wednesday, April 6, 2011

Bahkan Free Software pun Menggunakan License.

Unknown     Wednesday, April 06, 2011     No comments

-->
Bener, Free Software punya License yang diterbitkan oleh FSF. Ini saya tulis untuk mengajak agar kita lebih bijak dalam mendayagunakan free software yang menggunakan license GPL/LGPL/AGPL.

Bagi para 'penggila' opensource sering kali ada kesalahan kaprah eh kesalah-kaprahan pada kata free. Opensource software yang kebanyakan memang masuk sebagai free softwre ternyata menimbulkan ambiguitas tersendiri. Free Softwaere sering dibandingkan dengan “buy one get one free” dimana kata free di sini benar-benar berarti gratis (with no charge, sebuah kata dari bahasa Romance atau Germanic dan menetap di Indonesia dibawa sama ndoro tuan meneer Belanda yang aselinya merupakan turunan bahasa latin gratia). Tapi, coba bandingkan dengan frasa “free speech”. Out yang ini, kok jadi gak gratis lagi ya? Ha ha ha... mana ada gratis bicara! Nah lo! Trus gimana sih pengertian sebenarnya?

Mbah Richard Stallman (lahir 16 Maret 1953) adalah penggagas gerakan free software dan inisiator copy left sebagai saingan copy right, pernah bilang Free software is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of free as in free speech, not as in free beer”. So jadi, kalo mengikuti istilahnya si Mbah ini, maka pengertian free software ini menjadi bukan software gratisan meskipun kita bisa mendapatkannya secara gratis. Free yang bisa diartikan pada free software adalah kebebasan. Kebebasan pada free software versi FSF diatur dalam license yang mereka terbitkan sebagai General Public License (GPL). Dan, sesuai dengan arti kebebasan pada free speech, maka kebebasan ini akan berarti kebebasan untuk menyalin apa adanya, memberikan perubahan, dan mendistribusikannya. Tetapi hal yang harus diingat ketika kita mendistribusikan baik secara gratis maupun dengan mengambil fee adalah bahwa kita harus bisa memberikan seluruh hak yang kita peroleh ketika kita mendapatkan software yang kita distribusikan itu (perhatikan preambule pada GPL), dan semua modifikasi juga harus mematuhi seluruh term yang ada pada GNU GPL (Yup... memang mesti kudu harus begitu, wong kita cuma melakukan modifikasi terhadap aplikasi yang menggunakan GPL, bukan bikin baru!). Disamping itu, kita juga harus menyertakan GPL license yang digunakan oleh aplikasi yang kita modifikasi.

GNU LGPL, GNU Lesser General Public License adalah GNU GPL versi 3 dengan beberapa tambahan. Tambahan yang ada pada GNU LGPL terutama ditujukan untuk distribusi library (kepustakaan) yang menggunakan LGPL. Kebanyakan opensource IDE dan/atau framework pengembangan aplikasi menggunakan license LGPL. Dalam pengembangan aplikasi, seringkali kita harus menggunakan IDE dan framework tersebut. Sebagai penghargaan buat pengembang framework yang kita pakai maupun IDE yang kita pakai, meskipun kita kemudian merelease aplikasi kita sebagai closed surce, tetap kita wajib menyertakan license LGPL yang melindungi framework/IDE yang kita pakai tadi.

Dari tulisan saya di atas, saya secara pribadi. Memandang bahwa General Public License dibuat untuk memberikan kebebasan untuk membuat, memodifikasi, atau menggunakan suatu aplikasi tetapi sekaligus melindungi Hak Atas Kekayaan Intelektual pengembangnya agar karya mereka bisa digunakan secara bebas namun orang lain kemudian tidak bisa memonopli dan mengklaim sebagai karyanya dan kemudian mendaftarkan copy right-nya sehingga jangankan orang yang lainnya lagi, si pengembangpun menjadi tidak bisa menggunakan atau memodifikasi aplikasinya itu.

0 komentar :

Friday, April 1, 2011

Hmmmm.... Sigma Visual Builder

Unknown     Friday, April 01, 2011     3 comments
Beberapa minggu lalu (ah..... beberapa minggu lalu? baru posting sekarang? ya iya wong lagi sedikit agak sibuk banget sih... sokSibukMode(On);), aku sempet berjalan-jalan sambil iseng cari-cari GUI development tools buat AJAX. Walhasil, bertemulah diriku dengan satu produk yang lumayan cuanggih yang namanya Sigma Visual Builder (ngalamatnya: http://www.sigmawidgets.com/products/sigma_visual/ ). Kalo aku bilang, Wow! sekali lagi, Wow! keren....!!!!!!!!
Gak percaya? Nih alamatnya kalo mau nyicipin tanpa kudu ngunduh dulu..http://www.sigmawidgets.com/products/sigma_visual/VisualJS/UIBuilder.html.Dan informasi yang lebih menggembirakan adalah bahwa yang empunya ni menyediakan versi komuniti dengan laisen LGPL v3.0. Top kan?
Terakhir, beliau ini bisa bekerjasama dengan bermacam-macam bek en, macem PHP, .Net, Phyton, Java. Nah, siapa mau coba?

3 komentar :

Recommended