Friday, October 24, 2014

Menanti 2015, Penantian Panjang Vaksin Ebola

Wihartoyo     Friday, October 24, 2014    

VIVAnews – Seluruh perusahaan farmasi ternama akhirnya menyadari bahaya virus Ebola. Mereka pun menghabiskan jutaan dolar dan berlomba menemukan penyembuh virus mematikan tersebut. Mereka berkomitmen untuk mempercepat pengembangan vaksin Ebola, sehingga bisa mencapai target produksi tahun depan.
Banyak perusahaan mulai melakukan investasi sosial untuk memproduksi vaksin tersebut. Mulai dari Facebook, Microsoft, sampai negara di Eropa menggelontorkan dana untuk membantu mempercepat ditemukannya vaksin tersebut.
Menurut data WHO pada Maret lalu, virus yang belum ada obatnya itu telah mematikan sekitar 4.500 orang dan masih menginfeksi 9.000 orang di Afrika, tempat wabah itu bersarang.
Berita baiknya, dikatakan WHO seperti dilansir Reuters, Nigeria telah bebas dari penyakit mematikan ebola, setelah selama enam pekan tidak ditemukan kasus baru. Ini merupakan pencapaian dan pelajaran bagi negara lain yang masih berjuang untuk melawan ebola.
Memang, dari sisi ekonomi, menciptakan vaksin Ebola tidak memiliki keuntungan apa-apa bagi para pengusaha bisnis farmasi.
Sebelumnya, Dr. Sina Bavari dari USAMRIID mengatakan jika Ebola tidak memiliki pasar dan keuntungan yang potensial, sehingga dia menganggap tidak ada alasan bagi perusahaan farmasi untuk terlibat dalam penelitian ini.
Mengingat pasiennya hanya berada di satu wilayah tertentu, di negara miskin pula. Namun, reputasi perusahaan-perusahaan tersebut sedang dipertanyakan oleh masyarakat. Secara tidak langsung, masyarakat menekan mereka untuk bisa menyelesaikan kasus yang dianggap sebagai krisis kesehatan dunia.

Butuh banyak vaksin sebagai alternatif
Ketua Riset Johnson & Johnson (J&J), Paul Stoffels, mengatakan bahwa sangat penting bagi dunia untuk memiliki beberapa vaksin uji coba untuk dikembangkan. Sebab, tidak jelas mana vaksin yang akan ampuh mengobati Ebola, sehingga pada akhirnya akan terciptalah satu vaksin yang mumpuni.
Dilansir Reuters, perusahaan farmasi terbesar di Amerika itu menargetkan untuk memproduksi sekitar satu juta dosis untuk vaksin dua-langkah yang telah mereka ciptakan.
Vaksin itu, ditargetkan akan diproduksi tahun depan. Mereka mengaku telah melakuksn diskusi dan kerja sama dengan GlaxoSmithKline (GSK). Diketahui, GSK juga sedang mengembangkan vaksin untuk virus mematikan itu.
Percobaan pada manusia telah dimulai dengan beberapa vaksin. Diperkirakan tahap ini bisa menguak efek tersembunyi dari vaksin-vaksin tersebut sebelum akhirnya dilakukan vaksinasi secara massal.
Menurut Microbiologis dari Thomas Jefferson University di Philadelphia, Matthias Schnell, tidak bisa sembarang menguji vaksin. Sebab, ahli vaksin yang sedang mencari pengobat virus Ebola dan Rabies ini mengatakan jika dibutuhkan lebih banyak data klinis dari setiap vaksin sebelum diberikan kepada massa.
“Vaksin lebih berpotensi memiliki banyak keburukan ketimbang kebaikan, apalagi jika diujicobakan ke orang yang masih sehat. Efek serius yang tidak diharapkan bisa muncul,” kata Schnell.
Ditambahkan Ben Neuman, virologis dari University of Reading di Inggris mengamini pernyataan Schnell. Ia memberikan contoh, saat 2007, di mana Merck & Co melakukan uji coba vaksin AIDS yang menjanjikan. Setelah diujicobakan, sebuah studi menemukan jika vaksin itu malah berpotensi memudahkan masuknya virus HIV.
“Pada Ebola, vaksin hanya menciptakan respon kekebalan tubuh tapi tidak difokuskan untuk mematikan virus. Ini bisa membuat virus menjadi lebih mudah menginfeksi sel yang masih sehat,” kata Neumann.
Uji coba sudah dilakukan GSK bekerja sama dengan National Institute of Health dan New Link Genetics (NLG) Corp. Mereka menguji coba produk yang dikembangkan periset dari pemerintahan Kanada. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba pada manusia di awal tahun depan untuk produk GSK ini.
Setelah itu, uji coba klinis akan dilanjutkan terhadap tiga vaksin lainnya. Meski hampir semua vaksin telah menunjukkan keampuhannya saat diuji coba pada hewan, namun itu tidak memberikan jaminan bisa ampuh pada manusia.
Menurut Thomas Geibert, virologis dari University of Texas Medical Branch di Galveston, Texas, beberapa vaksin itu bekerja dengan cara menstimulasi tubuh untuk mengumpulkan antibodi dengan kemampuan mengingat karakter virus. Vaksin memungkinkan tubuh mengenali virus Ebola saat tubuh terinfeksi, dari situ antibodi akan bekerja menghadang virus.
“Cara kerjanya berbeda dengan Zmapp dan obat eksperimen lain yang pernah diberikan kepada pasien Ebola. Zmapp dan vaksin-vaksin itu diciptakan untuk orang yang sehat agar bisa terhindari dari infeksi virus,” katanya.
GSK dan NLG berasal dari virus yang dimodifikasi. Virus itu diubah, sehingga bisa memunculkan protein Ebola yang cukup kuat menstimulasi respons kekebalan tubuh.
GSK dan NLGmasing-masing membawa virus yang telah dikembangkan untuk vaksin. Vaksin GSK berasal dari virus flu simpanse sedangkan NLG memiliki vaksin yang berbasis virus vesicular stomatitis, yang biasa ditemukan pada sapi.
Sedangkan J&J telah memiliki vaksin yang juga akan diuji coba 2015 ini. Awalnya, mereka mau menguji pada bulan Maret, namun WHO mendesak untuk mulai pada Januari tahun depan. Ketimbang memberikan satu suntikan vaksin, dalam uji coba itu, J&J akan memberikan dua kali suntikan vaksin Ebola untuk menguji tantangan suplai logistik sekaligus.
Nantinya, relawan yang sehat akan menerima vaksin itu untuk kemudian dipantau selama beberapa hari untuk melihat efek dan respons tubuh. Partisipan pertama akan mendapatkan dosis yang rendah sebelum mendapatkan suntikan selanjutnya.
Dikutip NY Times, WHO mengatakan Uji coba ini dipastikan akan mulai dilakukan pada Januari tahun depan. Dua vaksin akan di uji cobakan di negara-negara Afrika Barat, tempat asal wabah Ebola.
Setidaknya, menurut WHO, ada tiga vaksin lagi yang akan mulai diujicobakan di tempat yang berbeda, di luar negara tersebut. Uji coba vaksin untuk para relawan yang sehat di luar negara wabah akan mulai pada kuartal pertama 2015.
Satu dari tiga vaksin itu sebenarnya adalah kombinasi dari dua inokulasi (suntikan) yang telah dikembangkan oleh Johnson & Johnson dan sebuah perusahaan asal Denmark, Bavarian Nordic. Keduanya memastikan rencana uji coba vaksin temuannya pada Januari. Mereka berharap, bisa langsung memproduksi satu juta dosis pada 2015, jika terbukti berhasil.

Bantuan berdatangan
Selain bantuan dari para perusahaan farmasi, gelontoran dana mulai berdatangan dari perusahaan-perusahaan ternama. Orang terkaya di dunia, melalui yayasan yang mereka miliki, menghibahkan puluhan juta dolar untuk mempercepat proses uji coba vaksin.
Dipaparkan GSK CEO, Andrew Witty, telah digelar pertemuan di Jenewa pekan ini untuk memastikan cara mengantisipasi penyebaran Ebola, baik yang terinfeksi maupun yang tidak, dan mendorong ketersediaan suplai vaksin tersebut. Diharapkan, mereka bisa mendorong terkumpulnya dana untuk menghentikan wabah ini
Selain itu, Bill Gates melalui yayasan yang dimilikinya dengan sang istri, Melinda Gates, telah menggelontorkan US$50 juta kepada WHO dan CDC untuk mempercepat penemuan vaksin dan membantu para pekerja kesehatan untuk menanggulangi Ebola di Afrika. Belum lagi, US$25 juta dari pendiri Facebook dan sang istri, Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan. (asp)

(Dari Viva[dot]co[dot]id)

Recommended